Mr. Arif’s Speech on HPI Workshop

Mr. Arif’s Speech on HPI Workshop

Dear teman-teman,Kemaren hari Sabtu saya dan Pak M Iwan Munandar ngoceh di acara Temu Penerjemah Jawa Timur. Acara yang dihelat HPI Komda Jatim itu juga dihadiri Pak Indra Listyo dan Ibu Anna Wiksmadhara dari HPI pusat. Presentasi saya mengusung tema seputar quality control tugas penerjemahan. Sengaja saya sajikan beberapa hasil terjemahan para mahasiswa saya (yang sudah kenyang saya sleding dengan komentar sinis) berikut catatan dari saya tentang kesalahan mereka. Banyak peserta yang kemaren minta softcopy dari materi itu kepada panitia, lewat forum ini saya bagikan hasil salin rekatnya untuk kita pelajari bersama. ON A WAVE OF HOPEBy Michael Jones(UQ Contact, Summer 2019)PART ONESon Ngo could no longer feel his legs. The heat and musty air inside the hull of the rickety wooden boat made it hard to breathe, but he wouldn’t dare move a muscle or make a sound.Arif Subiyanto >> Kedua kaki Son Ngo sudah mati rasa. Panas dan pengapnya udara di dalam lambung perahu kayu yang rapuh itu membuat dia sulit bernapas, tapi dia tak sedikit pun berani bergerak atau bersuara.Wedged between 10 other desperate South Vietnamese asylum seekers and piles of coconuts, 10-year-old Son and his mother were finally escaping Saigon – via the city of Tra Vinh – and the brutal communist regime that followed the horrors of the Vietnam War.Arif Subiyanto >> Son (saat itu baru berumur 10 tahun) dan ibunya yang berdesakan disela-sela tumpukan buah kelapa bersama dengan 10 pencari suaka lain dari Vietnam Selatan akhirnya berhasil kabur dari Saigon – melewati kota Tra Vinh – dan lepas dari brutalnya rejim komunis yang merebut kekuasaan seusai Perang Vietnam yang mengerikan itu.Son was just two years old when his father – a high-ranking South Vietnamese military officer – was killed 15 days before the war ended in 1975.Arif Subiyanto >> Umurnya 2 tahun saat ayahnya – seorang perwira tinggi militer Vietnam Selatan – terbunuh 15 hari sebelum perang berakhir pada tahun 1975.He and his mother were forced to live with his maternal grandparents, who had managed to bribe communist officials to leave the family alone. But when their connection to the old regime began to resurface in 1982, Son’s grandfather organized a boat for their escape.Arif Subiyanto >> Dia dan ibunya terpaksa hidup menumpang di rumah kakek-neneknya, yang berhasil menyuap para perwira militer komunis agar tidak mengusik kehidupan mereka. Tetapi ketika keterkaitan keluarga mereka dengan rejim lama mulai terungkap pada tahun 1982, kakek Son mulai mengatur rencana untuk kabur meninggalkan negaranya dengan menumpang perahu.Disguised as coconut merchants en route to the river markets, they headed off in an eight-meter boat putting along unnoticed – past the armed soldiers stationed along the Mekong River, and around the floating, bloated bodies of the victims of failed escapes. The plan, simple as it was, had worked. Arif Subiyanto >> Dengan menyamar sebagai pedagang kelapa yang mendatangi pasar-pasar di sepanjang aliran sungai, mereka menaiki perahu sepanjang delapan meter dan berhasil lolos dari pemeriksaan tentara di sepanjang Sungai Mekong yang permukaannya dipenuhi mayat membusuk dari orang-orang yang gagal melarikan diri. Rencana pelarian yang sederhana itu ternyata berhasil.But as the boat reached open water and Son finally emerged from the hull – stiff and desperate for fresh air – his relief was short lived. Even as a boy, he knew this boat was never meant for the ocean. And when the engine broke down and the inexperienced crew had no idea how to fix it, they were at its mercy.Arif Subiyanto >> Namun ketika perahu itu mencapai laut lepas dan Son bisa keluar untuk menghirup udara segar, rasa lega mereka tak berlangsung lama. Bahkan bocah sekecil dia pun tahu, perahu mereka tidak dibangun untuk mengarungi lautan. Dan manakala mesin perahu itu mati dan para awaknya samasekali tak tahu cara memperbaikinya, nasib mereka tergantung kepada perahu kecil itu.*****ON A WAVE OF HOPE: PART TWOFloating helplessly at sea with no food or water on board for many days, Son couldn’t believe his eyes when he spotted a bigger boat in the distance. His heart sank when he realized it wasn’t a rescue vessel, but Thai pirates.“The pirates boarded our boat brandishing weapons and my mum shielded me with her body as they ransacked the boat and our belongings,” Son recalled.“They even checked our teeth for gold fillings, but soon realized we had nothing to take.“One girl was dragged back to their boat, but she was so sickly that they dumped her back to us.“In the end, they must have felt guilty because they left us with a pot of rice, some canned fish and a container of water. Ironically, that supply of food probably saved our lives.”The supplies lasted three days. On the third night, with water gradually inundating the small boat, a passing oil tanker spotted the burning clothes tied to the waving oars in the distant darkness. Son can still vividly remember the beaming lights and overpowering smell of industrial cleaner from the giant vessel.*****Now let us check my students’ translation and see why they got peppered with my spicy comments. Floating helplessly at sea with no food or water on board for many days, Son couldn’t believe his eyes when he spotted a bigger boat in the distance.My version:Setelah beberapa hari perahunya terombang-ambing di lautan lepas tanpa bekal makan dan minum, Son merasa sangat beruntung ketika dia melihat sebuah perahu yang lebih besar di kejauhan.My students’ versions:(1) Son tidak mempercayai apa yang dia lihat ketika dia melihat perahu yang lebih besar dari kejauhan setelah berhari-hari terlantar di laut tanpa persediaan makanan maupun minuman. (ARP – 603023) Comment: ‘Terlantar’ means you are abandoned. Your parents dumped you and let you live on your own, begging and scavenging for food. Nobody cares about you despite the fact that they live in affluent society. That is called terlantar. But when your boat is drifting aimlessly in the open sea, you are not terlantar. You’re doomed!(2) Selama berhari-hari berlayar tak tentu arah di tengah lautan tanpa makanan atau air, Son tidak percaya ketika dia melihat ada kapal berukuran besar di kejauhan. (ARA – 600071) Comment: With your boat’s engine dead, it’s impossible to sail (moron!)(3) Selama berhari-hari ia mengambang tanpa daya di laut tanpa makanan atau air di kapal, dari kejauhan ia melihat kapal yang lebih besar dan tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. (ANI– 603025) Comment: Mengambang: exuberantly floating on still water, no!(4) Terombang-ambing tak berdaya di tengah laut tanpa makan dan minum selama berhari-hari, Son terkejut melihat ada perahu yang lebih besar dari kejauhan. (CTW – 603048). Comment: Terkejut? Like seeing your stepfather wearing lingerie in the dead of night? Son must have been overjoyed by the sight, right?(5) Terapung berhari-hari dan tak berdaya di laut, tanpa makanan ataupun air. Son terkejut dan senangnya bukan main ketika ia melihat kapal besar dari kejauhan. (DKN – 603032). Comment: It was just a bigger boat, don’t be hyperbolic!(6) Terombang ambing berhari-hari di lautan tanpa makanan dan minuman, Son terkejut ketika melihat ada kapal yang lebih besar di kejahuan. (DKW – 603007) Comment: Boat and ship are radically different in size. I guess you can’t tell a mosquito’s dick from a man’s schlong.(7) Setelah berhari-hari mengambang di lautan tanpa makanan maupun minuman, mata Son terbelalak ketika dia melihat ada kapal besar dari kejauhan. (DF – 603019) Comment: Had it been just a bigger boat, he wouldn’t even bother to take a look, eh?(8) Terapung tak berdaya di lautan tanpa makanan atau minuman dalam kapal berhari-hari lamanya, Son seakan tak percaya ketika ia melihat kapal berukuran lebih besar di kejauhan. (EF – 603027) Comment: Was he floating on the sea or aboard of a luxury liner? Be accurate with your bullshit.(9) Setelah mengapung tak berdaya di lautan tanpa makanan dan minuman selama beberapa hari, Son terkejut ketika melihat ada sebuah kapal besar di kejauhan. (FPS – 603063)(10) Terombang ambing di tengah lautan tanpa makanan dan minuman di kapal selama beberapa hari. Son, tidak menyangka melihat sebuah kapal lebih besar di kejauhan. (MR – 603009) Cumment: OK, but again it’s not a vessel. Just a rickety 8-meter wooden boat.(11) Berhari-hari terombang-ambing di lautan tanpa makanan dan minuman, Son sangat terkejut ketika dia melihat perahu lain yang lebih besar. (MZ – 603033) Comment: Had it been another small boat he wouldn’t be surprised, right?(12) Setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan tanpa makanan ataupun air, Son merasa bahagia saat melihat kapal besar di kejauhan. (MR – 603002) Comment: Thanks for entertaining me (13) Mengapung tak berdaya di tengah laut tanpa persediaan makanan maupun minuman selama berhari-hari, Son terkejut saat dia melihat sebuah kapal besar dari kejauhan. (MSF – 603047) No comments.(14) Terdampar di tengah laut berhari-hari tanpa makanan dan minuman, Son tersentak tak percaya melihat sebuah kapal yang lebih besar dari kejauhan. (MTN – 603036) Comment: You don’t get stranded on the ocean. Have you read Robinson Crusoe or seen Tom Hank’s Castaway?(15) Son tidak dapat memercayai matanya ketika ia mendapati sebuah kapal yang lebih besar di kejauhan setelah berhari-hari terombang-ambing di tengah lautan tanpa makanan dan juga minuman. (NR– 603040) Comment: Blast those lying eyes, hahahaha!His heart sank when he realized it wasn’t a rescue vessel, but Thai pirates.My version:Harapannya langsung padam ketika dia sadar perahu itu bukan berisi tim penyelamat, melainkan gerombolan perompak laut dari Thailand.My students’ versions:(1) Dia sangat kecewa setelah sadar bahwa itu bukanlah perahu penyelamat, melainkan bajak laut dari Thailand. (AR) Comment: Not bad.(2) Hatinya kecewa ketika dia sadar bahwa kapal itu bukan kapal penyelamat tetapi perampok dari Thailand. (ARA) Comment: No! You need a stronger expression. (3) Ia sedih ketika menyadari itu bukan kapal penyelamat, tetapi bajak laut Thailand. (ANI) Comment: You need to mingle with people in distress before attempting to translate tragic stories. Seriously! (4) Seketika nyalinya ciut saat mengetahui bahwa yang dilihat bukanlah perahu penyelamat, melainkan perompak dari Thailand. (CTW) Comment: We are not talking about bravery, Miss T..(5) Hatinya hancur ketika ia menyadari bahwa itu bukanlah kapal penyelamat, melainkan perompak dari Thailand. (DKN) Comment: Stop watching those idiotic Indonesian Sinetron, Kimberley! See how they ruin your language?(6) Dia merasa sangat sedih ketika dia sadar bahwa itu bukanlah kapal para team penyelamat, melainkan kapal perompak Thailand. (DK) Comment: Not bad. But not too good either.(7) Namun harapannya pupus kala dia menyadari bahwa kapal besar itu bukanlah kapal penyelamat melainkan kapal perompak Thailand. (DF) Comment: There you go! Change the word ‘kapal’ with ‘perahu’ and I’ll write a song for you (8) Betapa hatinya kecewa teramat dalam saat ia sadar bahwa kapal tersebut bukanlah kapal penyelamat tetapi kapal pembajak dari Thailand. (EF) Comment: What a waste of emotion…(9) Tapi Son kecewa saat dia menyadari itu bukanlah kapal regu penyelamat, melainkan kapal perompak dari Thailand. (FP) Comment: Son kecewa? Son of a bitch?(10) Harapannya pupus ketika dia menyadari itu bukan kapal penyelamat, melainkan bajak laut Thailad. (MR) Comment: Very good, but please… it’s not a big vessel.(11) Namun harapannya pupus saat dia sadar bahwa itu bukanlah kapal penyelamat, melainkan perompak. (MZ) Comment: That was pretty close to perfection, but you missed some details.(12) Kebahagiannya sirna saat ia menyadari ternyata itu bukan kapal penyelamat, tapi perompak Thailand. (MR) Comment: Not happiness, but just a pinprick of hope that vanished in a fraction of a second, Ray.(13) Dia kesal ketika dia sadar bahwa kapal tersebut bukanlah kapal penyelamat melainkan kapal bajak laut Thailand. (MS) Comment: What is kesal in English? Cross? Dismayed? Displeased? Whatever you choose, it’s simply wrong, because the adjective betrays the truest feeling.(14) Namun Son seakan putus harapan ketika mengetahui bahwa itu bukan kapal penyelamat, melainkan kapal bajak laut dari Thailand. (MTN) Comment: ‘Seakan’ means ‘as if’ or ‘seemingly.’ You know he lost hope, not seemingly losing hope. Come on, dude!(15) Tetapi harapannya sirna ketika ia menyadari bahwa yang datang bukanlah bala bantuan, namun perompak dari Thailand. (NR) Comment: OK.“The pirates boarded our boat brandishing weapons and my mum shielded me with her body as they ransacked the boat and our belongings,” Son recalled.My version:“Para perompak turun ke perahu kami sambil mengacung-acungkan senjata. Ibu terus mendekap tubuhku ketika mereka menggeledah perahu dan barang-barang bawaan kami,” kenang Son.My students’ versions:(1) “Para bajak laut naik ke kapal kami sembari menodongkan senjata dan ibuku melindungiku dengan badannya ketika mereka menggeledah perahu dan barang-barang kami,” ingat Son. (AR) Comment: Please check for the meaning of ‘brandishing weapons.’(2) “Para perompak naik ke perahu kami sambil menodongkan senjata dan ibu mendekapku saat mereka menjarah perahu dan barang-barang kami.” kenang Son. (CT) Comment: Part of your translation is cool, but you must understand that the pirates did not take anything away from them. The word ‘menjarah’ (loot) is really inappropriate.(3) “Ibuku selalu melindungiku dari ancaman senjata para perompak yang merombak barang-barang di kapal kami”, Son menceritakan masa lalunya. (DK) Comment: Your work is pockmarked with inaccuracies.(4) “Para perompak itu naik ke kapal kami sambil mengacungkan senjata dan ibuku memelukku saat mereka menggeledah isi perahu kami,” kenang Son. (MZ) Comment: OK.(5) “Para perompak naik ke kapal kami, mengeluarkan senjata, dan ibuku melindungiku saat mereka menggeledah isi perahu dan barang-barang kami,” kenang Son. (MS) Comment: Try to read again the source text and reconstruct the actions. Don’t make up your own story.(6) “Para perompak itu naik ke kapal kami dengan membawa senjata mereka dan ibuku berdiri dihadapanku seakan melindungiku dari para perompak yang sedang menjarah seisi perahu dan menggeledah kami.” Ujar Son mengingat kembali kejadian itu. (MTN) Comment: Your mom was just pretending to protect you? What a stinking liar she is.“They even checked our teeth for gold fillings, but soon realized we had nothing to take.”My version: Orang-orang itu bahkan memaksa kami membuka mulut untuk mencari lapisan gigi emas, tapi tak lama kemudian mereka tahu bahwa kami tak punya apa-apa yang layak mereka ambil.My students’ versions:(1) “Mereka bahkan memeriksa apa ada emas di gigi kami, tetapi pada akhirnya mereka sadar bahwa kami tidak punya apa-apa yang bisa diambil.” (ARA) Comment: Hahahahaha…(2) “Mereka bahkan memeriksa gigi kami untuk mencari emas, tetapi mereka menyadari bahwa kami tidak memeliki apa pun untuk diambil. (ANI) Comment: Hehehehehehe…(3) “Mereka bahkan memeriksa apakah kami ada yang mempunyai gigi dari emas, namun hasilnya nihil. (CTW) Comment: Hahaha…(4) “Mereka bahkan memeriksa gigi kami, siapa tahu ada emas pada tambalan gigi kami. Akhirnya mereka sadar, kami tidak punya barang berharga untuk mereka jarah. (DK) Comment: Yeeehhhaaaaa…(5) “Bahkan mereka memeriksa gigi kami dengan harapan ada emas di gigi kami, tapi akhirnya mereka sadar kita tidak punya apa-apa untuk dirampok.(DF) Comment: Hahahahaha… keep on hoping you morons.“One girl was dragged back to their boat, but she was so sickly that they dumped her back to us.”My version:Para perompak juga membawa paksa seorang anak perempuan, tapi akhirnya mereka lepaskan kembali sebab anak itu sakit parah.My students’ versions:(1) “Satu anak perempuan diseret ke perahu mereka, tetapi dia sangat lemah sehingga mereka mencampakkannya kembali kepada kami.” (AR) (2) “Mereka mencoba menculik salah seorang gadis ke kapal mereka, namun gadis itu sangat sakit sehingga mereka mengembalikan gadis itu.” (DKN) Comment: Did they really need to try to kidnap her?(3) “Seorang gadis dari kapal kami sempat dipaksa ikut ke kapal mereka, tetapi ia terlalu lemah, sampai-sampai mereka mengembalikan gadis itu ke kapal kami lagi.” (DK) Comment: Inappropriate translation.(4) “Seorang gadis diseret ke kapal mereka, tapi gadis itu sakit parah sehingga dia dibuang dan dikembalikan kepada kami.” (DF) Comment: Check again the actions. I mean the chronology.(5) “Satu anak perempuan sempat mereka jadikan tawanan, namun pada akhirnya dikembalikan kepada kami karena kondisinya yang sangat buruk.” (NR) Comment: They took a hostage? Really?“In the end, they must have felt guilty because they left us with a pot of rice, some canned fish and a container of water. Ironically, that supply of food probably saved our lives.”My version:Pada akhirnya kawanan perompak itu seperti merasa bersalah; mereka malah memberi kami sepanci beras, beberapa ikan kalengan dan satu jerigen air minum. Ironis memang, nyawa kami justru diselamatkan oleh persediaan makanan pemberian para perompak itu.My students’ version:(1) “Pada akhirnya, mereka pasti merasa bersalah karena mereka meninggalkan satu porsi nasi, beberapa ikan kaleng, dan satu wadah berisi air. Ironisnya, persediaan makanan tersebut sepertinya penyelamat hidup kamu.” (ARA) Comment: So they felt guilty for helping the asylum seekers? (2) “Akhirnya, mereka mungkin merasa bersalah sehingga mereka memberi kami sepanci nasi, beberapa ikan kalengan dan sebotol air. Ironisnya, makanan itu mungkin yang membuat kami selamat.” (DKN) Comment: Can a pot of boiled rice stay fresh in 3 days? A bottle of water for 10 passengers? Be creative.(3) “Mereka pasti merasa bersalah karena pada akhirnya mereka meninggalkan kami dengan satu pot beras, beberapa ikan kalengan dan sewadah air minum. Ironisnya, persediaan makanan itu menyelamatkan nyawa kami,” (ENF) Comment: You were too lazy to consult your dictionary for the meaning of ‘pot.’(4) “Mereka pasti menyesal karena meninggalkan sebakul nasi, beberapa ikan kalengan dan segalon air. Ironisnya, persediaan makanan itu menyelamatkan kami.” (FP) Comment: Check again the logic of your translation.(5) “Akhirnya, entah mereka mungkin merasa kasihan hingga mereka meninggalkan kami dengan sepanci beras, beberapa kaleng ikan sarden, dan satu jirigen air yang ironisnya hal itu justru menyelamatkan kami.” (MTN) Comment: Who says they were sardines? The supplies lasted three days. On the third night, with water gradually inundating the small boat, a passing oil tanker spotted the burning clothes tied to the waving oars in the distant darkness.My version: Beras, ikan dan air minum itu habis dalam tiga hari. Pada malam ketiga, manakala perahu kami semakin digenangi air, dalam kegelapan para kru sebuah kapal tanker yang sedang melintas melihat kobaran api yang berasal dari kain yang kami bakar dan dan kami ikatkan ke ujung kayuh. Masih terbayang jelas dalam ingatan Son, silaunya lampu sorot dan tajamnya bau cairan pembersih industrial yang berasal dari kapal raksasa itu.My students’s versions:(1) Pemberian itu bertahan hingga tiga hari. Pada malam ketiga saat air perlahan mulai menggenangi perahu, sebuah kapal tangki yang melintas berhasil melihat kode kami yang berupa pakaian dibakar dan diikat pada dayung lalu dilambai-lambaikan di tengah kegelapan.Son masih ingat dengan jelas pancaran cahaya serta aroma menyengat tukang bersih-bersih dari kapal besar itu. (CT) – Haha. Bertahan?(2) Stok makanan habis dalam tiga hari. Di malam ketiga, air sudah mulai masuk ke kapal. Dalam kondisi yang gelap gulita, pakaian yang kami bakar dan mengikat beberapa ke layar kapal berhasil menarik perhatian sebuah kapal tengki yang sedang lewat.Son samar-samar mengingat betapa silaunya cahaya dan kuatnya bau pembersih industri dari kapal yang sangat besar tersebut. (DK) Comment: Vividly means very clear, life-like. Not samar-samar.(3) Pasokan makanan itu bertahan tiga hari. Pada malam ketiga, dengan kapal yang sedikit demi sedikit di banjiri air, sebuah kapal tanker minyak yang melintas melihat pakaian yang terbakar sinar matahari diikat pada dayung yang melambai dari kejauhan dalam kegelapan. Son masih dapat mengingat dengan jelas lampu kemerlap dan bau cairan pembersih industrial yang menyengat dari kapal besar. (MR) Comment: Pada malam ketiga ada cahaya matahari membakar pakaian? Lampu kemerlap? Ah come on…(4) Persediaan makanan itu akhirnya habis dalam tiga hari. Pada malam setelahnya, ketika penumpang kapal kecil itu mulai kewalahan dengan air laut yang masuk ke dalam kapal mereka yang semakin lama semakin banyak, sebuah kapal minyak akhirnya melihat dari kejauhan adanya cahaya di antara kegelapan yang berasal dari lambaian pakaian yang dibakar dan diikatkan pada dayung kapal. Son masih bisa mengingatnya dengan jelas cahaya lampu yang sangat terang dan bau cairan pembersih kimia yang menyengat dari kapal besar itu. (NR) Whoa…What lessons we can learn from this session?1. Don’t take your bahasa Indonesia for granted.2. Capitalize on your dictionaries. Know how to use them.3. Try your best to keep your language natural and readable.4. Never assume, speculate or guess. You have to be accurate, or in case you cannot provide accurate translation, be inventive.5. If accurate or faithful translation fails you, stick to the message or the spirit of the source text.6. You are not obliged to create translations that reflect the complexity of the original text’s grammar.7. When dealing with simple sentences, do not elaborate your translation unnecessarily.Poke: Arif Furqon, Selviya Hanna, Sutarto Mohammad, Rahmani Astuti

Leave a Reply