BAB 1: Bahagia Jalur Mandiri: Bagaimana Cara Menghadapi Kegagalan dan Kebiasaan Membandingkan Pencapaian

Penulis: Laksamana Fadian Z.R. (@laksamana_fadian)

Pemikir peradaban sekaligus sociopreneur

PART I

Mari kita setujui bersama bahwa Kebahagiaan adalah pencarian final manusia dalam kehidupan. Tujuan hakiki manusia mengejar kampus terakreditasi, demi mendapat gaji diatas 8 juta, dan mendapat properti sebelum umur 30 berujung pada pencarian “kebahagiaan”. Kebahagiaan sebagai destinasi final ini sejalan dengan pemikiran Eudaimonisme Socrates. Disini saya—Laksamana Fadian Z.R. pada dasarnya belum mengetahui arti kebahagiaan absolut sebelum tulisan ini dibuat.

Ironisnya, menurut Viktor Frankl sebagai orang yang selamat pada tragedi Auswitch,  semakin kita mengejar kebahagiaan, akan semakin sulit untuk kebahagiaan datang pada kita. Apalagi, di era dewasa ini kita dikepung oleh informasi yang membuat kita akan selalu haus akan kebahagiaan dengan mengkomparasikan kebahagiaan kita dengan orang lain. Kita selalu mengejar standar kebahagiaan yang telah diraih oleh orang yang lebih hebat daripada kita.  

Pembelajaran dari Penulis yang Dikepung Oleh Ragam Standar Kebahagiaan Kerabat

Berkaitan dengan kepungan informasi, jujur saja, sebagai teknisi freelance, batinku terganggu saat melihat instastory kerabat melancong luar negeri sebagai akademisi atau petinggi korporat. Fitur keirian pada otak membuatku tidak puas akan pekerjaanku yang sekarang. Freelancer telah distigmatisasi sebagai pekerja musiman dan sangat tidak pantas dimasukkan ke list brainstorming kandidat menantu.

Keirianku juga didasari atas fakta bahwa hingga titik ini aku belum pernah ke luar negeri. Melihat lesung pipi kebahagiaan dari sahabat Insta yang meniup uap panas Udon di tengah salju Jepang, akupun semakin minder. Apakah benar kualitasku memang sebatas menjadi teknisi lokal bergaji cekak yang hanya mampu mengirim tidak lebih dari 8 digit uang ke orang tua? Apalagi beli tiket bandara Suta.

Berkaitan dengan kompetisi menuju puncak, aku adalah bagian dari ratusan anak muda yang telah memenangkan sebuah Lomba nasional dan tidak lagi bangga di kemudian hari saat melihat instastory teman memenangkan Lomba internasional. Kepalaku seakan mengatakan bahwa pencapaian teman menjadi sinyal ancaman seberapa tertinggal kita. Seakan-akan senyum mereka mengisyaratkan bahwa “aku harus ke luar negeri sebelum umur 23, harus kerja di BUMN sebelum umur 25, dan menikah sebelum umur 27”. Timeline itu begitu melelahkan karena seakan-akan aku tidak merdeka dalam menentukan garis hidupku.

Mungkin pembaca juga telah berada atau akan berada di titik krisis demikian. Pembaca mungkin ada di posisi startup founder yang tidak kunjung mendapat valuasi, membuka bisnis terjemahan di keadaan Google translate yang kian pintar, atau menjadi pengajar panggilan yang gaji nya habis digerus pertalite. Ketiga contoh pekerjaan itu sebenarnya adalah apa yang telah saya lakukan sejak menjadi Maba. Sejak titik maba, cemas di tengah malam hingga pagi menjelang adalah ritual rutin. Terlepas dari posisi atau krisis yang pembaca hadapi, aku mencoba mendidikasikan tulisan ini agar dapat diterima secara universal.

Kompetisi Kebahagiaan : Kebahagiaan Semu

Melihat stigma pekerjaanku dan Instastory teman yang Go-international, lantas aku tidak bergeming. Argumen klise yang selalu aku pegang adalah—standar kebahagiaanmu tidak seharusnya didasarkan atas superioritasmu atas orang lain. Kebahagiaanmu tidak seharusnya dikomparasikan dengan kebahagiaan pemuda sebaya yang diluar sana tertawa dengan Gelato di pinggiran kali misisipi. Kenapa? Karena kamu akan terjerat di kebahagiaan “semu” walau kamu berhasil mengungguli atau mencapai apa yang orang lain capai, karena pencapaianmu bukan merupakan apa yang engkau impikan selama ini.

POJOK QUOTES

Waktu adalah

PART II

Membandingkan Diri

Tentunya, mengkomparasikan diri kita dengan pencapaian teman merupakan perilaku “self-harm” karena kita akan kesulitan untuk menghargai progress kecil yang telah kita berhasil perjuangkan dengan susah payah. Padahal, menghargai diri kita dengan menciptakan benak positif merupakan kunci agar kita selalu termotivasi dalam berusaha, seperti teori psikologi yang mengedepankan pentingnya stimuli dan respons. Maka dari itu implikasi akhir dari runtutan self-harm ini adalah kemogokan dari diri kita untuk berkarya karena tidak ada stimulus internal lagi, dan stimulus eksternal dari orang lain belum tentu hadir karena semua orang sedang bergelut dengan krisisnya masing-masing. Mungkin perspektif lain mengatakan bahwa membandingkan diri dengan pencapaian pelari di depan kita merupakan cara diri untuk benchmark, evaluasi, sumber motivasi apapun itu, tapi sadarilah, nyamankah engkau saat orangtuamu sendiri mengkomparasikan dirimu dengan anak tetangga yang lulus cumlaude? Tidak? Yasudah, jangan jahati dirimu sendiri. Lagipula, membandingkan diri dengan pencapaian orang untuk mengetahui “sudah seberapa tinggi” aku hanya akan memberikan sensasi kebahagiaan sementara dan justru akan Mencari kelemahan orang hanya untuk membuat kita Bahagia.  

Jadilah Dalang Kehidupanmu Sendiri dan Tentukan Timeline Ceritamu!

Terlebih lagi, deadline dan timeline kesuksesan yang mengatakan kita harus sukses sebelum 30 tidak lebih merupakan cara pasar kapitalisme memaksa orang membeli paket pelatihan kaya secara instan atau memuluskan bisnis wisata internasional. Masyarakat menganggap ekspektasi deadline kepada anaknya sebagai cambukan agar anak lebih giat kerja. Padahal, semua deadline dan ekspektasi itu tidak lebih dari budaya toxic. Secara tidak langsung masyarakat menciptakan lebih banyak generasi yang memiliki pikiran bunuh diri karena dia tidak dapat menyelesaikan target deadline kesuksesan. Tidak tercapainya target itu sangat mungkin terjadi sebab terdapat banyak faktor eksternal yang tidak dapat kita kontrol seperti kompetisi dengan keturunan aristocrat ber-privileged tinggi, budaya nepotisme, timpangnya pasar kerja dengan jumlah lulusan, dan seterusnya. Dari deadline itupun kita tidak akan lagi menghargai progress kecil dari usaha, bahkan sampai menganggap jurusan atau bidang kerja kita tidak ideal hanya karena bergaji atau ber-output cekak sehingga tidak dapat mengajar deadline itu tepat waktu. Deadline itu telah menjadi delusi yang justru menyesatkan!

Bahagia Jalur Mandiri

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa Bahagia jalur mandiri dengan tidak membandingkan kehidupan kita dengan pencapaian orang lain?. Cara yang paling mudah ya cukup matikan sosial mediamu. Terlalu berlebihan? Cukup mute akun orang yang sekiranya membuatmu kecil. Mengapa demikian? Karena kita butuh waktu untuk berdamai dengan diri sendiri dan tidak terbakar duluan saat pencapaian lewat story menghantui setiap hari. Lewat meditasi dan menjauh dari pemantik anxiety, kita bisa menginternalisasi pemahaman bahwa dunia ini kompleks banget. Kadang kita melejit di awal 20-an tetapi bisa saja diagram tersebut anjlok di umur 30. Ada yang merangkak naik secara perlahan dan mencapai puncak di umur 40 tapi ga pernah jatuh sama seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Semua orang memiliki alur ceritanya masing-masing. Maka dari itu, jadilah dalang dari kehidupanmu, bukan wayang yang dikontrol oleh mekanisme pasar yang menjejalimu dengan deadline yang tidak-tidak.

Kalaupun kita ingin menjadikan seseorang sebagai sosok motivasi, membandingkan dan mengecilkan diri bukanlah cara bijak. Gunakan buku biografi, podcast, karya seni seperti film sebagai pil motivasi harianmu yang lebih sehat karena mereka menjelaskan secara terperinci tentang momen terburuk dan bagaimana mekanisme untuk bangkit hingga mereka berada di puncak diagram Maslow sekarang. Bandingkan konten itu dengan caption sosok yang sukses sekarang! Mereka pasti enggan memperlihatkan luka mereka untuk mendapat sepucuk piala bergemilau. Mereka menutupinya untuk memperlihatkan “aku terlahir terampil dan jenius, lihat aku dunia!”.


Kita Semua Memiliki Privilege

Kita perlu waktu sendiri untuk memutar kilas balik perjuangan kita sebelum titik sekarang. Dari situ, kita dapat mensyukuri hal kecil seperti: “ah tidak apa ga lolos UI, toh tinggal di kampus swasta bukan berarti aku ga bisa berkarya”. “Aku masih bisa Mencari modal usaha lewat dana hibah ataupun pinjaman saudara”. “Mau upgrade skill? Banyak kok workshop online gratis yang bisa membuatku sebagai penyair hingga CEO handal”. Memalukan untuk kita menyalahkan takdir disaat puluhan remaja di perbatasan Yaman tiap hari tertembak mati sia-sia sebelum sempat merasakan bangku empuk kuliah. Pada akhirnya kita akan tersadar bahwa tiap orang memiliki privilege nya masing-masing, hanya saja kita tidak mensyukurinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Setelah momen meditasi itu, kembalilah ke sosial media dan mulailah mempublikasikan karya terbaikmu–walau sekecil apapun itu–tanpa gentar diremehkan dan tanpa niat Mencari validasi orang. Pada titik itu, katakanlah “terimakasih” yang paling tulus pada dirimu sendiri.

Sebagai pamungkas deretan mantraku, aku ingin memberikanmu saripati dari semua paragraph sebelum kamu berjuang, saripati yang tersusun atas tumpukan kegagalan. Kegagalan selalu dianggap hal tabu dan harus dihapus dari sejarah, dimulai dari orangtua kita yang memberikan pola asuh “harus Juara” hingga video motivasi yang menggambarkan aktor yang “selalu sukses” di klimaks cerita setelah “mengeksploitasi diri”.

Saripati pertama, sadari bahwa otak dan mental itu bisa terengah-engah dan sakit. Maka dari itu, ketahuilah batasmu. Terkadang kita memberikan target harian yang tak masuk akal untuk mental mencerna semuanya. Mulailah anggap jiwa dan ragamu sebagai sosok sahabat yang pantas dirangkul dan diberi waktu untuk istirahat sejenak setelah sekian lama perjuangan atau lingkungan yang tidak baik. Dengan begitu kamu dapat Bahagia disaat bekerja dan terhindar dari reflux asam lambung hingga migrain disaat mentalmu meronta.

Saripati kedua, karena kegagalan PASTI terjadi diantara rentetan kesuksesan,  kecewa dan marah pada diri sendiripun tak terhindarkan hingga kita memaki diri dengan narasi “aku tidak kompeten!, memalukan!, dan pemalas!”. Banyak yang berpikir bahwa amarah itu haruslah diekspresikan ke diri sendiri sebagai sumber masalah. Namun, di lapisan terdalam, mental kita akan memberontak atas perilaku kasar tersebut. Kita akan lebih cepat depresi dan mogok kerja. Ataupun apabila dipendam dengan mengesampingkan ronta mental itu, timbulah kebiasaan buruk seperti makan hingga belanja berlebihan untuk menstimulasi mental yang tidak kian sehat. Maka dari itu, gunakanlah momen dimana kita terpuruk akan kegagalan sebagai ajang istirahat, merenung, katakanlah hal positif tentang sisi baik hari buruk atau apa yang engkau pelajari dari kesalahan dan kegagalan lampau. Tanamkan sekali lagi bahwa di dunia ini banyak sekali eksternalitas yang tidak kita bisa kontrol dan terkadang orang-orang bisa lolos ujian itu hanya karena mereka “beruntung”. Jadi, dekap dirimu sendiri dan katakan terimakasih.

HARUS NYA DISINI DITARUH KESIMPULAN ULTIMATE TENTANG CARA BERBAHAGIA.

BAB 2: Dimana dan Bagaimanakah Tujuan Hidup dan Passion Dicari?

Menentukan tujuan hidup merupakan merupakan hal sentral yang harus dilakukan sebelum menentukan definisi kesuksesan dan kebahagiaan. Tanpa tujuan, kita tidak akan mengetahui makna Bahagia pasca mendapat kesuksesan. Seorang siswa yang sejak awal memiliki tujuan bekerja di arsitektur dengan target berkuliah di UCL UK tidak akan merasakan kebahagiaan hakiki apabila ia tiba-tiba mendapat scholarship di Harvard serta ditempatkan di industri minyak walau dengan bayaran melimpah. Tanpa tujuanpun, kita tidak akan memiliki dorongan motivasi kuat untuk mengambil resiko dan memulai sesuatu dengan tantangan besar. Terbukti, pasukan bunuh diri Kamikaze Jepang berani menabrakkan diri ke sentral pertahanan Amerika di WW2 dikarenakan mereka memiliki tujuan, entah itu karena dasar jihad, untuk dikenang di buku sejarah hingga 1 abad kedepan, ataupun untuk mengakhiri kefanaan hidup.  Semua alasan dan alibi untuk memulai resiko itu didasarkan atas tujuan. Maka dari itu, banyak kita melihat orang yang bekerja keras di momen awal memulai proyek saja kemudian menyerah sebab mereka semua tidak mendasari tujuan itu dengan alasan kuat. Maka dari itu, mulai buat tujuan yang didasarkan atas rasa emosional yang kuat dan melekat. Sama saat kita bekerja dengan Sistem Kebut Semalam (SKS) dimana kita bisa bekerja 10 kali lebih cepat tanpa pauses dengan tujuan untuk menghindari celaan dosen di kemudian hari di depan “crush” yang kita kagumi.  

Lantas, bagaimana apabila tujuan kita menyimpang di tengah jalan, suatu fenomena ketidakonsistenan yang sering melanda pemuda. Pemuda yang tak konsisten dengan tujuan hidup terkadang disebabkan karena tidak kuatnya brainstorming tujuan sejak awal (contoh: memilih jurusan hingga merasa salah jurusan), pengaruh eksternal yang membuat brainstorming tujuan tidak berdasarkan kemandirian pikiran dan keinginan (contoh: ekspektasi orang tua dan rivalitas dengan teman),..

Sehingga, penyebab utama dari ketidakonsitenan tujuan berakar dari..

Sehingga, kita harus…

Benarkah Role Model adalah Narasumber Strategi Hidup yang tepat?

Pernahkah kalian

PR: Golden circle sinek WHY layer

BAB 3: Cerita Pasca Sukses: Apa yang Ada di Balik Awan Puncak Tertinggi

Terkadang memvisualisasikan fenomena setelah sukses lebih penting dari planning untuk Mencari kesuksesan itu. Bagaimana tidak? Tanpa menggambarkan output dari upaya kita, kita tidak akan tahu tujuan utama dari apa yang kita rencanakan. Manusia modern sekarang ini memiliki ingin ini, ingin itu banyak sekali, seakan-akan semua dapat dikabulkan. Padahal, tanpa penggambaran tujuan dan destinasi, kita akan mudah roboh dihadang banyak rintangan pahit saat kita mengusahakan impian kita. Disaat kita tidak yakin bahwa 100 meter langkah lagi akan terdapat delta penuh air dan ikan saat kita sempoyongan degan fatamorgana padang pasir, kita akan dengan mudah menyerah pada takdir.

Tujuan Altruis Lebih Efektif Menjaga uMotivasi

Aku pernah di posisi dimana aku ingin menjadi tokoh bereputasi di kampus hingga mendapatkan royalty dari karya Lomba. Semua keinginan itu berkiblat ke keinginan egosentris dan materialistis. Ga ada salahnya kamu memiliki tujuan egosentris demi kepuasan diri menuju puncak pyramid Maslow,T ataupun bertujuan materialistis untuk memenuhi kebutuhan keluarga. AKAN TETAPI, bersiap-siaplah untuk selamanya terjerembab di jurang ketidakpuasan. Pemasukan Rp. 3 juta dari hilir mudik Lomba kesana kemari awalnya memuaskan, tetapi kepuasan itu akan terdepresiasi seiring dengan meningkatnya keinginan upgrade gaya hidup untuk mentransformasi 3 juta itu menjadi pengakuan, baik berupa outfit baru hingga HP super canggih….

Berbeda halnya saat engkau memiliki tujuan altruis yang bersifat eksternal. Tujuan yang lebih berorientasi ke kemajuan masyarakat di sekitarmu.

Leave a Reply